Wahh, Ternyata Inilah Jasa Warga Tionghoa Demi Membela Indonesia
Wahh, Ternyata Inilah Jasa Warga Tionghoa Demi Membela Indonesia

Mengingat kembali kiprah warga Tionghoa ketika membela Indonesia. Selain John Lie yang namanya akan diabadikan sebagai nama KRI TNI AL jenis multi role light frigate atau MRLF yang kini masih berada di Inggris, masih banyak lagi kiprah warga Tionghoa yang ikut mengangkat senjata membela bangsa Indonesia ini.

Kisah kehidupan sang kakek, Kho Bak Tjoa, yang turut mengangkat senjata mengusir kolonial Belanda di Jambi, rupanya banyak mengusik benak Hendra Kho. Apalagi sang kakek, yang meraih Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno, kerap menyatakan darma paling mulia dari seseorang adalah ketika memberikan yang terbaik kepada orang banyak. Untuk negara dan juga bangsa. Pria kelahiran Jambi, 9 September 1982, itu pun menerjemahkannya dengan menjadi tentara. Korps infanteri adalah idamannya.

Selepas sekolah menengah atas, dia pun mendaftarkan diri mengikuti seleksi calon taruna Akademi Militer. Sayang, pada tahap akhir dia dinyatakan tidak lulus. Kedua orang tuanya, Djoni Kho dan Tjoa Ngang Heng, membesarkan hati dengan menyarankan agar mengikuti tes pada tahun berikutnya. Tapi Hendra tidak mau. Dia tidak ingin makin frustrasi karena menjadi pengangguran.

Untuk melupakan kegagalan itu, atas restu orang tuanya, Hendra hijrah ke Jakarta dan mendaftar ke Fakultas Hukum Universitas Trisakti. Ketika gelar sarjana hukum hampir digenggam, Hendra mengaku sempat berniat menjadi pebisnis. Tapi, sekelebat kemudian, cita-cita menjadi tentara kembali membuhul.

“Saya ingin membuktikan bahwa orang Tionghoa tidak hanya pandai berdagang,” ujar suami Chang Jane.

Dengan sokongan ayah-ibunya, Hendra, yang telah bergelar sarjana hukum, mengikuti seleksi sekolah perwira prajurit karier. Kali ini dia dinyatakan diterima dan lulus dengan pangkat letnan dua TNI Angkatan Udara pada Juli 2007. Dari 256 orang lulusan perwira, Hendra tercatat menduduki peringkat ke-32. Dari 72 siswa matra udara, dia berada di urutan ketujuh dari 10 siswa terbaik.

Selanjutnya, Hendra ditempatkan di Korps Pasukan Khas atau Pasukan Komando TNI Angkatan Udara. Hendra, yang kini menjabat Kepala Hukum Pusat Pendidikan dan Latihan Paskhas TNI AU di Bandung, mendapat anugerah tiga tanda jasa, yakni Dharma Nusa, Wira Dharma, serta Wira Nusa. Oktober tahun lalu, dia juga berhasil meraih pangkat kapten.

Hendra Kho adalah segelintir warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang mau menjadi anggota TNI dan berani mengungkapkannya ke publik. Selebihnya memilih menutup rapat jati diri dan kiprah mereka sebagai prajurit TNI-Polri. Padahal rata-rata mereka mencapai pangkat perwira menengah, bahkan ada juga yang menjadi jenderal.

Sebut saja Mayor Jenderal dr Daniel Tjen, SpS, yang kini menjabat Kepala Pusat Kesehatan TNI. Atau Brigadir Jenderal (Purnawirawan) Teddy Yusuf, yang lama aktif sebagai perwira intelijen dan pernah menjadi anggota Fraksi ABRI (1995-1999).

Bahkan penelusuran lebih lanjut mengenai Didi Kwartanada dari Yayasan Nation Building menemukan bahwa kiprah warga keturunan Tionghoa memang sudah ada sejak sebelum perang kemerdekaan dan selama perjuangan merebut kemerdekaan. Buktinya, di taman-taman makam pahlawan di beberapa daerah, ada sejumlah makam yang menggunakan nama Tionghoa.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY