Sindiran Telak Ahok Sukses Permalukan Paslon 1 dan 3 Pada Debat Pilkada Ketiga DKI Jakarta 2017
Sindiran Telak Ahok Sukses Permalukan Paslon 1 dan 3 Pada Debat Pilkada Ketiga DKI Jakarta 2017

Jejakmalam – Sindiran Telak Ahok Sukses Permalukan Paslon 1 dan 3 Pada Debat Pilkada Ketiga DKI Jakarta 2017 – Debat yang baru saja berakhir ini bisa dikatakan sebagai debat pamungkas karena bukan hanya sebagai debat terakhir sebelum memasuki masa tenang, tapi juga sebagai sarana bagi paslon untuk mati-matian mendulang dukungan undecided voter (pemilih yang masih ragu dan menentukan pilihannya). Selain itu, saya melihat sindirannya pun lebih pamungkas dan tajam. Jika diperpanjang dua jam lagi, mungkin ada beberapa yang akan terpancing emosi.

Di BBM saya saja banyak yang menuliskan status mengenai hasil debat. Intinya mereka mengatakan, semua hanya omongan doang, kecuali Ahok yang memberi bukti dan memperlihatkan hasil kerjanya. Saya tidak akan merangkum semua hasil debat tadi, melainkan ada satu poin yang menarik perhatian saya, yaitu cara Ahok mengembalikan semua serangan dari paslon 1 dan 2.

Salah satunya adalah pembahasan mengenai fasilitas bagi penyandang disabilitas. Serangan tersebut di smash balik oleh Ahok dengan cerdas. “Saya kadang-kadang pada pasangan calon 1 dan 3 ini, kadang-kadang saudara ini suka membangun opini menyesatkan,” kata Ahok.

Ini bermula dari ketika Anies yang mengkritik halte TransJ koridor 13 tidak ramah penyandang disabilitas. Lalu Ahok memperlihatkan foto halte tersebut yang ramah kursi roda, namun tak bisa dilewati motor. Ahok juga mengatakan sudah membeli bus TransJ yang memiliki suspensi miring. Selain itu Ahok mengatakan ada 5047 CCTV yang terintegrasi dengan Smart City, toilet yang menjadi fasilitas umum juga sudah ramah difabel.

Sylvi juga tidak ketinggalan mengkritik Ahok terkait persoalan tidak mempekerjakan penyandang disabilitas di Pemprov DKI dan membatasi ibu-ibu PKK. Ahok memberikan smash telak untuk Sylvi yang tak bisa ditangkis, “Untuk PNS, Ibu Sylvi ini kemana aja. Kita ini ada 1 persen PNS yang penyandang disabilitas di DKI. Makanya nanti kami mau tingkatkan di UU yang baru agar menjadi 2 persen. Saya pernah belikan kursi roda mesin pada PNS yang bekerja. Dia awalnya PNS di DPRD, kami pindahkan ke Kominfo. PKK dibatasi? Aduhhhh, justru PKK ini yang menghasilkan 600 ribu data rumah tangga. PKK sekarang menggunakan aplikasi, yang tersingkir adalah yang tidak mau berubah.”

Sebuah smash yang sulit ditangkis. Paslon 1 dan 3 dengan gampangnya memberikan bola tinggi dalam permainan bulu tangkis sehingga Ahok dengan mudah men-smash lawan hingga tak bisa berkutik. Dan yang paling memorable adalah ketika Ahok menyamakan paslon 1 dan 3 seperti Om dan Tante.

Berawal dari Ahok yang memamerkan prestasinya dalam menyulap wajah Kalijodo. Kalijodo dulunya tempat di mana perempuan diperdagangnkan, narkoba diedarkan, anak-anak dipekerjakan. Ahok mengerjakannya dengan standar internasional.

Ahok lalu memberikan smash terakhirnya, mengatakan memimpin Jakarta ibarat hubungan orang tua dan anak yang mendidik dengan disiplin. Tapi ada Om dan Tante yang datang dan ingin memanjakan anak-anak yang telah dididik. “Kami ingin anak-anak sehat, dididik dengan baik, punya karakter dan budi pekerti. Tapi tapi tolong pasangan 1 dan 3, ibarat Om dan Tante yang datang ke rumah, semua diperbolehkan, dikasih 1 miliar, beri rumah nggak jelas padahal dicicil saja tidak mampu, gaji pas-pasan. Jangan jadi Gubernur seperti Om dan Tante dan merusak aturan yang sudah dibuat orang tua. Mendidik anak susah, kami didik bertahun-tahun, jangan dirusak demi menjadi Gubernur saja,” kata Ahok dengan mantap.

Sakitnya tuh di sini, bagi yang merasa. Om dan Tante ibarat Anies dan Sylvi yang memberi program tidak jelas, hanya wacana yang penerapannya entah bagaimana, dan terkesan manis padahal dalam jangka panjang tidak baik bagi warga itu sendiri. Inilah yang selalu disindir Ahok. Demokrasi yang ternoda karena beberapa paslon melakukan sesuatu yang sebenarnya kurang mendidik tapi tetap saja dilakukan demi memenangkan Pilkada DKI.

Memang benar kata Ahok bahwa mendidik itu sulit. Membesarkan anak gampang, mendidik itu yang menjadi bagian tersulit. Merusak malah lebih gampang. Begitu pula dengan demokrasi. Membangun demokrasi yang baik dan sehat itu tidak mudah dan kadang butuh proses lama. Tapi untuk merusak demokrasi cukup mudah, cukup bodohi masyarakat dengan black campaign dan iming-iming angin surga yang sebenarnya adalah angin kentut. Dan inilah yang terjadi sekarang ini, di mana masih banyak yang berusaha menodai demokrasi dengan kampanye sindir-nyinyir alih-alih adu program, melukai demokrasi dengan program-program basi yang sayangnya masih suka dimakan masyarakat.

Ahok sekarang sedang berusaha mengubah wajah demokrasi ke arah yang lebih baik dengan cara mendidik yang benar. Berhasil tidaknya usaha Ahok akan segera terlihat pada tanggal 15 Februari nanti.

Bagaimana menurut Anda?

Baca Juga : Kekalahan Didepan Mata, PKB Tinggalkan AHY & Berbalik Mendukung Pasangan Calon Nomor Urut…

LEAVE A REPLY