Apakah Cristiano Ronaldo benar-benar siap mengambil posisi striker utama?

Pertanyaan tersebut mencuat setelah dua pertandingan Portugal pada Piala Eropa 2016. Kiprah Ronaldo justru diwarnai nihil gol, kegagalan penalti, dan penuturan frustrasi.

Perubahan posisi ditengarai sebagai pemicu grafik menurun Ronaldo. Bersama tim berjulukan Seleccao, Ronaldo mendapat posisi sebagai striker utama, bukan sayap kiri seperti ketika membela Real Madrid.

Peran tersebut diemban Ronaldo sejak start kualifikasi, pertengahan 2015. Pelatih Fernando Santos melihat Ronaldo lebih berbahaya ketika beroperasi di kotak penalti lawan.

Statistik mungkin bisa mengonfirmasi keputusan Santos. Ronaldo tidak seeksplosif dulu dalam menyisir sisi lapangan.

Rata-rata dribble pemain berjulukan CR7 itu jauh menurun, dari 6,2 per laga pada musim 2009-2010 menjadi 3,1 pada 2015-2016.

Di kotak 16, Ronaldo justru menunjukkan grafik menanjak. Tengok saja 25 gol tandukan dari Ronaldo pada La Liga dan Liga Champions dua musim terakhir.

Ronaldo pun mengucapkan sebuah deklarasi pada November 2015, “Saya adalah seorang pemain yang beroperasi di kotak penalti.”

Dua laga Piala Eropa menunjukkan hasilnya masih jauh dari harapan. Ronaldo sekadar mengancam gawang lawan, bukan menggetarkan.

Total 20 tembakan dilepaskan Ronaldo, tetapi tak satu pun membuahkan gol. Di Perancis, Ronaldo juga mendapatkan kesempatan tendangan bebas ke-36 khusus turnamen internasional. Lagi-lagi, usaha Ronaldo nihil hasil.

Menilik rentang waktu menjalani lakon sebagai striker utama, Ronaldo sebenarnya tidak merasa asing. Satu tahun, termasuk sejumlah laga uji coba internasional, adalah periode yang jauh dari cukup.

Terlebih lagi, Ronaldo juga sempat menjajal peran tersebut bersama Madrid. Total 11 pertandingan dijalani dia dengan menunggu di kotak penalti.

Hanya, area kiri mungkin telanjur menjadi zona nyaman Ronaldo. Terbukti, 44 dari 51 gol Ronaldo bersama Madrid musim lalu tercipta di posisi tersebut. Cuma 7 gol dicetak dia ketika menjadi striker utama.

Minimnya persiapan juga ditengarai pemicu melempemnya performa Ronaldo. Dia harus menjalani rehat tambahan setelah final Liga Champions.

Alhasil, Ronaldo cuma mengikuti satu dari total tiga pertandingan pemanasan Portugal menjelang turnamen.

Belum lagi faktor lawan. Di Grup F, Portugal terlihat superior di atas kertas. Hanya ada Islandia, Austria, dan Hungaria sebagai pesaing.

Situasi ini memicu lawan untuk memeragakan sepak bola negatif. Tengok saja partai kontra Islandia, 15 Juni 2016. Tim peringkat 34 FIFA itu cuma menguasai 34 persen permainan dan sering melepaskan umpan panjang ke daerah lawan.

“Islandia hanya mencoba untuk bertahan. Mereka hanya memiliki dua peluang dan bermain tanpa niat mencetak gol,” ucap Ronaldo seusai pertandingan, sebagaimana dilansir Mirror.

Penumpukan di kotak penalti pun membatasi ruang gerak untuk Ronaldo. Seolah bukan sang striker utama, dia lebih banyak melepaskan percobaan luar kotak.

Statistik minor tidak lantas membuat Ronaldo harus diabaikan menjelang partai kontra Hungaria di Stadion Parc Olympique Lyonnais, Rabu (22/6/2016).

“Dia akan mencetak gol pada pertandingan selanjutnya,” kata Santos pada jumpa pers Selasa (21/6/2016), seperti dikutip BBC.

Fakta sejarah bisa mendukung keyakinan pelatih. Jangan lupakan Piala Eropa 2012, ketika Ronaldo juga diterpa kritik karena gagal mencetak gol dalam dua pertandingan pertama,

Pada partai pamungkas grup di Stadion Metalist, Kharkiv, 17 Juni 2012, Ronaldo langsung memborong dua gol Portugal ke gawang Belanda.

Sejarah bisa saja berulang. Hanya, pertanyaannya tetap sama. Di mana posisi Ronaldo nanti? Kotak penalti atau kembali ke kiri?

LEAVE A REPLY