Kekalahan Didepan Mata, PKB Tinggalkan AHY & Berbalik Mendukung Pasangan Calon Nomor Urut..
Kekalahan Didepan Mata, PKB Tinggalkan AHY & Berbalik Mendukung Pasangan Calon Nomor Urut..

Jejakmalam – Kekalahan Didepan Mata, PKB Tinggalkan AHY & Berbalik Mendukung Pasangan Calon Nomor Urut.. – Bila ada ungkapan bahwa politik itu kejam, memang ada benarnya. Bisa serong kanan kiri menyesuaikan kepentingan demi target kekuasaan. Fleksibel. Hari ini mendukung tapi esok hari tidak menutup kemungkinan balik badan. Itulah fenomena partai politik yang selalu terjadi kapan saja dan dimana saja. Jangan berharap idealisme ditemukan. Muaranya semua hanyalah kekuasaan sesuai dengan tujuan berpolitik.

Hal ini terjadi juga di PIlkada DKI 2017. Agus Harimurti Yudhoyono, anak pak mantan yang berpasangan dengan Sylviana dan didukung oleh 4 parpol akhirnya mengalaminya. Salah satu cabang partai politik yang mendukungnya, menarik diri dan berpindah ke lain hati.

Sejumlah fungsionaris Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Cabang Jakarta Selatan mendeklarasikan dukungan kepada pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi). Acara deklarasi itu dilakukan pada Rabu malam, 8 Februari 2017, di Resto Raden Bahari Buncit, Jakarta Selatan.

Ketua Dewan Syuro PKB Fachrurazi mengatakan keputusan partai berpindah dukungan dari Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Agus-Sylvi) ke pasangan nomor urut tiga itu melalui musyawarah. “Paslon nomor tiga adalah paslon paling dekat dengan ulama. Insya Allah, keputusan ini berkah,” ucap Fachrurazi dalam siaran tertulis yang diterima Tempo.co, Kamis, 9 Februari 2017.

Walaupun menyadarai bahwa keputusan partai di tingkat pusat tak sejalan dengan yang di tingkat wilayah Jakarta Selatan, PKB Jakarta Selatan siap akan menanggung konsekwensinya dan siap memenangkan paslon nomer 3.

Di menit-menit akhir menjelang pencoblosan, berita ini tentunya menjadi pukulan berat bagi pepo dan putra mahkotanya. Di saat elektabiltasnya merosot tajam dan membutuhkan lebih banyak dukungan agar bisa masuk ke putaran kedua, suaranya malah akan lebih tergerus lagi dengan keluarnya salah satu cabang parpol pendukungnya.

Masalah kedekatan pada ulama yang dijadikan alasan para fungsionaris PKB Jakarta Selatan menarik dukungan, sepertinya hanya dalih saja. Kunjungan paslon nomer 1 pada ulama dan juga pesantren guna mendapatkan dukungan sebenarnya malah paling intensif dibanding dengan paslon lain. Bahkan Ketua MUI, Maruf Amin pun didatangi di kantor PBNU.

Dukungan yang konon dari para ulama dan habib se DKI pun juga sudah dideklarasikan. Ketika mereka menghadiri acara ‘Istigosah Doa untuk Jakarta Bersama Agus-Sylvi’. Dalam acara yang dipelopori oleh Jaringan Santri Indonesia (JSI), Agus-Sylvi didoakan oleh para ulama dan para habib dari seluruh DKI agar sukses di pilkada DKI.

Alasan yang lebih masuk akal PKB Jakarta Selatan menarik dukungan, kemungkinan besar paslon nomer 3 ini sudah tidak bisa diharapkan bakal menang atau setidaknya maju ke putaran 2. Di saat awal kemunculannya memang sempat membuat efek kejut masyarakat. Penampilannya yang masih muda dan ganteng ditambah sebagai anak mantan, seakan menyihir para pemilih.

Namun seiring dengan berjalannya masa kampanye dan debat kandidat yang diselenggarakan KPUD, kesadaran warga DKI yang sempat terhipnotis, lambat laun mulai timbul kembali. Kembali pada realitas kehidupan nyata. Ditambah lagi kasus dugaan korupsi yang menjerat pasangannya.

Visi misi dan program untuk Jakarta yang ditawarkan dianggap terlalu menggiurkan dan kurang realitis karena hanya janji-janji surga semata. Tidak bisa menjabarkan secara rinci apa yang dijanjikan malah berdalih bila nanti sudah terpilih baru akan dikatakan. Apalagi mengandalkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang cuma foto copy dari pepo sewaktu menjelang PIlpres kemarin. Terbukti selain tidak bisa mengurangi tingkat kemiskinan dan tidak mendidik, cara seperti ini akan mudah diselewengkan penyalurannya. Bukannya menolong rakyat bawah tapi malah banyak yang kena pidana karena dikorupsi.

Dari survei terbaru Litbang Kompas, disebutkan bahwa pemilih Agus-Sylvia 25% beralih ke Anis-Sandi dan ke pasangan Ahok-Djarot sekitar 9%. Menduduki urutan buncit.

Basis pemilih paslon 1 dan 3, diperkirakan kebanyakan memiliki karakter sama. Primordial berlatar belakang faktor sosiologis dan psikologis, walau ada pemilih rasional, namun jumlahnya tidak terlalu signifikan. Kedua pasangan ini akan saling berebut mendapatkan suara dari kalangan muslim. Tidak mengherankan bila satu pasangan elektabiltasnya turun, satunya lagi naik karena mendapat limpahan banyak dari pesaingnya.

Berbeda dengan paslon 2, Ahok-Djarot, yang berbasis pemilih rasional. Militansi dari pemilihnya sangat kuat dan sulit untuk pindah ke lain hati. Mereka memilih berdasarkan karya nyata yang telah dibuat oleh pasangan ini dan juga melihat program kerjanya yang memang masuk akal. Jumlah pendukung berbasis primordial tidak terlalu banyak jika diliat dari warga yang memiliki kesamaan etnis atau agama dengan Ahok dan tinggal di Jakarta.

Mendapat limpahan pemilih dari pasangan 1 dan 3 masih dimungkinkan khususnya yang berpikiran rasional. Persidangan kasus penistaan agama yang dituduhkan dan demo berkelanjutan semakin membuka mata warga bahwa lebih kental nuansa politisnya. Simpati massa biasanya akan muncul bila melihat orang teraniaya.

Survei Litbang Kompas menempatkan Ahok-Djarot diurutan pertama dengan angka 36,2% disusul oleh Anis-Sandi 28,5% di tempat kedua. Anak pepo seperti yang sudah diprediksi untuk masuk ke putaran 2 akan sulit sekali, hanya menempati posisi buncit.

Dengan adanya deklarasi PKB Jakarta Selatan menarik dukungannya, langkah putra mahkota semakin termehek-mehek. Selanjutnya penonton tinggal menunggu dan menikmati lanjutan kisah berserie pak mantan dengan cuitan-cuitannya yang penuh rasa #prihatin. Kemungkinan akan bertanya lagi kpd Bapak Presiden dan Kapolri, kenapa gagal maning…gagal maning…

Baca Juga : SBY Disarankan Pergi Ke Psikiater Atau Rumah Sakit Jiwa Karna Keseringan Curhat

Source: Seword.com

LEAVE A REPLY