Jokowi Marah Besar Kepada JK Gara-gara Ulah Setya Novanto
Jokowi Marah Besar Kepada JK Gara-gara Ulah Setya Novanto

Sebelum kunjungan kerja ke Paris, dua pekan lalu, Presiden Joko Widodo masih terlihat santai menanggapi kasus pencatutan namanya yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto saat bertemu petinggi Freeport.

Beberapa kali ditanya tanggapannya soal kasus ditangani Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), Jokowi juga masih tampak tak terganggu.

Namun, entah mengapa, baru dipancing sebentar saja dengan pertanyaan awak media massa soal kasus itu, wajah presiden asal Solo tersebut langsung menegang. Tidak ada lagi senyumnya yang seperti biasa luwes menanggapi masalah.

Tangannya beberapa kali diacungkan saat menegaskan terkait kasus ‘Papa Minta Saham’ tersebut. Jari telunjuknya terlihat bergetar. Ini pertama kalinya Jokowi menunjukkan kemarahan atas kasus pencatutan namanya.

Dalam wawancara itu, mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut juga menyinggung sejumlah kalimat celaan yang diungkapkan Novanto, Riza Chalid, dan Maroef Sjamsoeddin tentang dirinya.

Berikut transkrip lengkap jawaban Jokowi atas kasus ‘papa minta saham’

“Proses yang berjalan di MKD harus kita hormati. Tapi. Tapi tidak boleh yang namanya lembaga negara itu di permainkan. Lembaga negara itu bisa kepresidenan, bisa lembaga negara lain. Saya enggak apa-apa dikatain presiden gila! presiden sarap, presiden kopah. Ndak apa-apa. Tapi kalau sudah menyangkut wibawa mencatut nama meminta saham 11 persen itu yang saya enggak mau!. Enggak bisa! Ini masalah kepatutan, kepantasan, moralitas!. Itu masalah wibawa negara.”

Setelah itu tak ada lagi senyum sang presiden yang biasanya ramah. Ia langsung pergi meninggalkan awak media massa yang tampak bengong melihatnya semarah itu.
Tadinya, Jokowi hanya direncanakan jumpa pers terkait pelaksanaan pilkada serentak, 9 Desember mendatang. Namun, setelah selesai, ia terpaksa melayani pertanyaan awak media massa yang menanyakan soal kasus di MKD tersebut.

Walau demikian Presiden Joko Widodo belum menyampaikan sikapnya atas apa yang dikatakan Wapres JK yang mendukung publik melalui petisi terhadap Ketua DPR Setya Novanto untuk mundur
Pramono mengatakan, saat dirinya melaporkan ke Presiden Jokowi terkait sidang MKD hari ini, tidak ada pembahasan soal permintaan mundur untuk Setya Novanto. Walau di situ juga ada Wapres JK.

“Tadi saya report ketika melaporkan secara langsung pada Presiden juga ada Pak JK tapi Presiden tidak membicarakan hal itu,” jelas mantan Sekjen DPP PDIP itu.

Diberitakan sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla, setuju dengan desakan berbagai pihak melalui petisi agar Setya Novanto mundur sebagai Ketua DPR.

“Ya itu (mengundurkan diri) lebih bagus sebenarnya, lebih sportif,” kata Wapres Jusuf Kalla, di kantornya

Kalla menilai Setya Novanto sudah dua kali melanggar etika. Pertama, terkait pertemuan dengan kandidat calon Presiden AS Donald Trump. Kedua, jelas JK, saat ini terkait minta saham PT Freeport Indonesia yang menurut Kalla, jauh lebih tidak etis.

“Mana lebih berat, ini pertemuan Trump dengan pertemuan minta saham? Lebih berat mana? Lebih tidak pantas, maka etikanya harus menjadi pertanyaan. Itu saja sebenarnya. Bukan soal tertutup terbuka. Soal peristiwa itu,” jelas Kalla.

LEAVE A REPLY