Cerita Dewasa Kugauli Istri Tetanggaku Karna Suaminya Mandul
Cerita Dewasa Kugauli Istri Tetanggaku Karna Suaminya Mandul

Sebagai anak muda yang sdh bekerja aku dapat giliran ronda pd malam minggu. pd suatu malam minggu aku giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23. 00 dua org temanku tdk muncul di pos perondaan.
Aku tdk peduli mau datang apa tdk, karena aku maklum tugas ronda adlh sukarela, sehingga tdk baik utk dipaksa-paksa. Biarlah aku ronda sendiri tdk ada masalah. Karena memang belum mengantuk, aku jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk.

pd waktu sampai di samping rumah Pak Rohendy, aku melihat kaca nako yang belum tertutup. Aku mendekati utk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada org jahat yang membukanya. Dgn hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak aku mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dri dlm kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara org bersetubuh.

Nampaknya ini kamar tidur Pak Rohendy dan istrinya. Aku lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. Ssshh hhemm uughh ugghh, terdengar suara dengusan dan suara org seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara Bu Sari yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya kont0l Pak Rohendy sedang mengocok liang vagin@ Bu Sari.

Aduuh, darahku naik ke kepala, kont0lku sdh berdiri keras seperti kayu. Aku betul-betul iri membayangkan Pak Rohendy menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Sari yang cantik dan bahenol itu. Oohh, sshh buuu, aku mau keluar, sshh . ssshh. terdengar suara Pak Rohendy tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cpt, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Rohendy sdh ejakulasi dan pasti kont0lnya dibenamkan dlm -dlm ke dlm vagin@ Bu Sari.

Selesailah sdh persetubuhan itu, aku pelan-pelan meninggalkan tempat itu dgn kepala berdenyut-denyut dan kont0l yang kemeng karena tegang dri tadi. Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tdk terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dri sela-sela kaca nako yang tdk rapat benar. Aku jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21. 00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesdh itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. Aku mulai melihat situasi apakah aman utk mengintip mereka.

Apabila aman, aku akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih Bu Sari yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Rohendy), dapat dipastikan akan diteruskan dgn persetubuhan. Dan aku pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dgn suara-suara Pak Rohendy dan khususnya suara Bu Sari yang keenakan disetubuhi suaminya.

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila aku bertemu Bu Sari juga biasa-biasa saja, namun tdk dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta sama istri Pak Rohendy itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dgn seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. Aku menyadari bahwa hal itu tdk akan mungkin, karena Bu Sari istri orang. Kalau aku berani menggoda Bu Sari pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa aku dipukuli atau diusir dri kampungku. Tetapi nasib org tdk ada yang tahu. Ternyata aku akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh Bu Sari. pd suatu hari aku mendengar Pak Rohendy opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu.

Sebagai tetangga dan masih bujangan aku bnyk waktu utk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting aku mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dgn Bu Sari. pd suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dgn adiknya Pak Rohendy. Sore itu, mereka sepakat Bu Sari akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Sari sdh beberapa hari tdk pulang. Aku menawarkan diri utk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sdh menjalin hubungan lebih akrab dgn keluarga itu.

Sehabis mahgrib aku bersama Bu Sari pulang. Dlm mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Rohendy. Katanya seminggu lagi sdh boleh pulang. Aku mulai mencoba utk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali utk mendekatai Bu Sari. Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu Sari sdh berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa , kataku hati-hati. Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan , jawab Bu Sari. Tapi anu tho bu anuu. bikinnya khan jalan terus. godaku. Ooh apa, ooh.

kalau itu sih iiiya Dik Budi jawab Bu Sari agak kikuk. Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan Bu Sari yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. Aku semakin nekad saja. Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu lanjutku. Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik Budi kimpoi. Sdh kerja, sdh punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo , kata Bu Sari. Eeh, benar nih Bu Sari. Aku cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku Bu.

Tolong carikan yang kayak IBu Sari ini lhoo , kataku menggodanya. Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan bnyk. Saya khan sdh tua, jelek lagi , katanya sambil ketawa. Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, Bu Sari harus aku dapatkan. Eeh, Bu Sari. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah Bu Sari juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa , ajakku dgn penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak. Tapi nanti kemaleman lo Dik , jawabnya. Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu , aku sedikit memaksa. Yaa gimana yaa ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho. Bu Sari setuju. Batinku bersorak.

Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin aku persempit. Eeh, aku benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak Bu Sari dong Bu benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti Bu Sari marah sama saya. Nggak usaah aku katakan saja deh , kubuat Bu Sari penasaran. Emangnya kenapa siih. Bu Sari memandangku penuh tanda tanya. Tapi janji nggak marah lho. kataku memancing. Dia mengangguk kecil. Anu bu tapi janji tdk marah lho yaa. Bu Sari terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu Sari. Aku benar-benar bingung dan seperti org gila kalau memikirkan Bu Sari. Aku menya dri ini nggak betul. Bu Sari kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. aku sdh kurang ajar sekali , kataku menghiba. Bu Sari melongo, memandangiku.

sendoknya tdk terasa jatuh di piring. Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tdk berani memandangiku lagi. Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dlm mobil aku berpikir, ini sdh telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad utk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dgn tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, Bu Sari balas meremas tanganku. Batinku bersorak. Aku tersenyum penuh kemenangan. tdk ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. Aku kaget. Awaas! hati-hati! Bu Sari menjerit kaget. Aduh nyalib kok nekad amat siih , gerutuku. Makanya kalau nyetir jangan macam-macam , kata Bu Sari. Kami tertawa. Kami tdk membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sdh. Sampai di rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang.

Di rumah aku mencoba utk tidur. tdk bisa. Nonton siaran TV, tdk nyaman juga. Aku terus membayangkan Bu Sari yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat utk mendatangi rumah Bu Sari. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu aku sdh keluar rumah. Aku mendatangi kamar Bu Sari. Dgn berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, Buu Tadi, aku Budi , kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin Bu Sari bangun dan takut. Bisa juga mengira aku maling. Aku Budi , kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit.

Nako terbuka sedikit. Lewat belakang! kata Bu Sari. Aku menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, aku masuk, pintu tertutup kembali. Aku nggak tahan lagi, Bu Sari aku peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dgn lembut dan mesra, penuh kerinduan. Bu Sari membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku. Aku nggak bisa tidur , bisikku. Aku juga , katanya sambil memelukku erat-erat. Dia melepaskan pelukannya. Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dgn lebih bernafsu. Buu, aku kangen bangeeet. Aku kangen , bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora.

Aku ditariknya ke tempat tidur. Bu Sari membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dgn lembut, kuremas pelan-pelan. Bu Sari menyingkapkan dasternya ke atas, dia tdk memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung. Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dlm nya kupelorotkan, dan Bu Sari meneruskan ke bawah sampai terlepas dri kakinya. Dgn sigap aku melepaskan sarung dan celana dlm ku. Kont0lku langsung tegang tegak menantang. Bu Sari segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dri ujung kont0lku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali. Aku sdh nggak sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Sari, bertelekan pd sikut dan dengkulku.

Kaki Bu Sari dikangkangkannya lebar-lebar, kont0lku dibimbingnya masuk ke liang [email protected] yang sdh basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala kont0lku masuk, semakin dlm , semakin dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dlm kemaluan Bu Sari. Aku turun-naik pelan-pelan dgn teratur. Aduuh, nikmat sekali. Kont0lku dijepit kemaluan Bu Sari yang sempit dan licin. Makin cpt kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dgn penuh nafsu. Aduuh, Dik Budi, Dik Budii enaak sekali, yang cepaat.

teruus , bisik Bu Sari sambil mendesis-desis. Kupercpt lagi. Suaranya vagin@ Bu Sari kecepak-kecepok, menambah semangatku. Dik Budiii aku mau muncaak muncaak, teruus teruus , Aku juga sdh mau keluar. Aku percpt, dan kont0lku merasa akan keluar. Kubenamkan dlm -dlm ke dlm vagin@ Bu Sari sampai amblaas. Pangkal kont0lku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dlm vagin@ Bu Sari. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dlm beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sdh. Kerinduanku tercurah sdh, aku merasa lemas sekali tetapi puas sekali.

Kucabut kont0lku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara. Dik Budi, aku curiga, salah satu dri kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dri spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya aku sendiri kan. Dgn siapa aku membuat anak , katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali aku menyetubuhi Bu Sari tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai aku kimpoi dgn wanita lain.

Bu Sari walaupun cemburu tapi dapat memakluminya. Keluarga Pak Rohendy sampai ketika ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, Bu Sari sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pd meledek Bu Sari, mungkin waktu hamil Bu Sari benci sekali sama aku. Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku. Seperti telah anda ketahui hubunganku dgn Bu Sari istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun aku telah berumah tangga. Namun dlm perkimpoianku yang sdh berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tdk hamil-hamil juga walaupun kont0lku kutojoskan ke vagin@ istriku siang malam dgn penuh semangat.

Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sdh naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dlm nya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar [email protected] yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sdh nafsu, ya aku masukkan saja kont0lku ke [email protected]
Istriku juga dgn penuh gairah menerima coblosanku. Aku sendiri terus terang setiap ketika melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.

Tetapi karena istriku tdk hamil-hamil juga aku jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas aku tdk. Karena sdh terbukti Bu Sari hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Rohendy. Apakah istriku yang mandul Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, aku yakin istriku subur juga. Apakah aku kena hukuman karena aku selingkuh dgn Bu Sari aah, mosok. Nggak mungkin itu.

Apakah karena dosa Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi Bu Sari itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan. Utk mengatur perselingkuhanku dgn Bu Sari, kami sepakat dgn membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Rohendy tdk ada di rumah dan benar-benar aman, Bu Sari memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pd pukul 20. 00 lampu itu pd m, berarti keadaan aman dan aku dapat mengunjungi Bu Sari. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini.

Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal). Karena dri samping rumahku dapat terlihat belakang rumah Bu Sari, dgn mudah aku dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tdk ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Sari sdh bosan dgnku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tdk ada, sehingga tdk aman utk bertemu.

pd suatu hari aku berpapasan dgn Bu Sari di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan nggak Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa jawabku dgn penuh harapan karena sdh hampir satu bulan kami tdk bermesraan. Nanti ke rumah yaa! katanya dgn tersenyum malu-malu. Emangnya Pak Rohendy nggak ada kataku. Dia tdk menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya.

Walaupun sdh biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti. Seperti biasa malam minggu adlh giliran ronda malamku. Istriku sdh tahu itu, sehingga tdk menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. Aku sdh bersiap utk menemui Bu Sari. Aku hanya memakai sarung, ( tdk memakai celana dlm ) dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan memang kalau tidur aku tdk pernah pakai celana dlm tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tdk sumpek, serta kont0lnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dlm celana dlm yang ketat.

Waktu menunjukkan pukul 22. 00. Lampu belakang rumah Bu Sari sdh pd m dri tadi. Aku berjalan memutar dulu utk melihat situasi apakah sdh benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, aku menuju ke samping rumah Bu Sari. Aku ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menuju ke pintu belakang. tdk berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku masuk ke dlm .

Pintu ditutup kembali. Aku berjalan beriringan mengikuti Bu Sari masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman utk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sdh hampir satu bulan kami tdk mempunyai kesempatan utk melakukannya. Setelah itu, Bu Sari mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, Bu Sari tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.

Paa, sdh lama kita nggak begini , katanya lirih. Bu Sari sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama ke pd nya. Nampaknya Bu Sari menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua. Pak Rohendy sedang kemana sih maa , tanyaku. Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. Aku sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore , katanya sambil terus mendekapku. Maa, aku mau ngomong nih , kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Bu Sari diam saja dan memandangku penuh tanda tanya. Maa, sdh dua tahun lebih aku berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tdk ada masalah.

Aku jelas bisa bikin anak, buktinya sdh ada kan. Aku nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. pd hal bikinnya tdk pernah berhenti, siang malam , kataku agak melucu. Bu Sari memandangku. Pa, aku harus berbuat apa utk membantumu. Kalau aku hamil lagi, aku yakin suamiku tdk akan mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua org nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Utkku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. tdk seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sdh jadi bocah org lain dong yang ngurus , katanya sambil merenggut manja. Aku tersenyum kecut.

Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tdk punya anak sendiri. Biar tahu rasa , kataku. Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil , katanya menghiburku. Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa Enak saja. Didoain Mustinya aku kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih , katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami. Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih , kataku menggoda. Iiih, dasar , katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat. Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong! katanya manja.

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tdk puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. Bu Sari mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dgn kancing yang berderet dri atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dri dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sdh lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sdh tdk pakai BH). Celana dlm warna putih yang menutupi [email protected] yang nyempluk itu aku pelorotkan.

Aku benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Ketika satu kakinya ditekuk utk melepaskan celana dlm nya, gerakan kakinya yang indah, [email protected] yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu, buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagin@ yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. Aku tdk tahan lagi. Aku lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. Aku segera naik di atas tubuh Bu Sari. Kugumuli dia dgn penuh nafsu. Aku tdk peduli Bu Sari megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.

Uugh jangan nekad tho. Berat nih , keluh Bu Sari. Aku bertelekan pd telapak tanganku dan dengkulku. Kont0lku yang sdh tegang banget aku paskan ke [email protected] Terampil tangan Bu Sari memegangnya dan dituntunnya ke lubang [email protected] yang sdh basah. tdk ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dlm [email protected] Dgn penuh semangat kukocok vagin@ Bu Sari dgn kont0lku. Bu Sari semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cpt, semakin naik, naik, naik ke puncak.

Teruuus, teruus paa. sshh ssh bisik Bu Sari Maa, aku juga sdh mau keluaarr , Yang dlm paa yang dlm m. Keluarin di dalaam Paa Paa Adduuh Paa nikmat banget Paa , ouuch. , jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dlm -dlm kont0lku ke [email protected] Croot, cruuut, crruut, keluarlah spermaku di dlm rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. Bu Sari menggigit pundakku. Dia juga sdh mencapai puncak. Beberapa detik dia aku tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Kont0lku masih di dlm , aku gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum.

[email protected] licin sekali penuh spermaku. Kucabut kont0lku dan aku terguling di samping Bu Sari. Bu Sari miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik, Paa, Nia sdh cukup besar utk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. Aku ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa tadi mengeluh Rina belum hamil, aku memang sdh berniat utk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian utk test apakah Papa masih joos apa tdk. Kalau aku hamil lagi berarti Papa masih joosss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini. Dia tersenyum manis. Aku diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku. Malam itu aku bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan dan cinta kasih kami malam itu. Dan aku menunggu dgn harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua di rahim istri gelapku ini

LEAVE A REPLY